MANGKE COMPANY

SITUS DAGANG DENGAN BERBAGAI ARTIKEL YANG MEMBANTU ANDA DALAM MENCARI KEBUTUHAN ANDA

GAMBARAN TENTANG ALLAH

POSTINGAN 12 OKTOBER 2008

GAMBARAN TENTANG ALLAH

 

             Kebanyakan dari kita mempunyai masalah, yakni tidak memiliki gambaran yang jelas tentang Allah yang ingin kita sembah. Jadi pertanyaannya adalah mengenai Allah sendiri: Siapakah Dia sebenarnya ?

             Daud memberikan kepada kita sebuah jawaban yang menghibur serta mendorong: “Tuhan adalah Gembalaku” (Mazmur 23:1). Kalimat pembukaan yang dipakai Daud ini, memperkenalkan suatu gambaran tentang pengawasan yang terus-menerus nampak dari awal hingga akhir dari puisi tersebut.  Setiap baris semakin mengembangkan simbol ini, melengkapai gambaran yang ada, serta memaparkan kepada kita bagaimana Allah, Gembala kita memimpin kita ketempat dimana kita tidak akan pernah kekurangan lagi.

             Daud sendiri adalah seorang gembala. Dia melewati masa mudanya untuk menjaga dua tiga ekor kawanan dombanya dipadang gurun (1 Samuel 17:28). Padang gurun adalah salah satu tempat terbaik didunia untuk belajar. Ditempat itu ada berbagai gangguan dan sedikit yang bisa diandalkan. Ditempat seperti itu kita cenderung memikirkan arti banyak hal, ketimbang apa yang disediakan hal-hal itu.

             Suatu hari sewaktu Daud sedang mengawasi kawanan dombanya, ide bahwa Allah bagaikan seorang gembala muncul dibenaknya. Dia berpikir tentang perhatian terus-menerus yang diperlukan kawanan domba itu. dia memikirkan kebodohan domba-domba itu yang suka menyimpang dari jalan yang aman dan perlunya mereka dibimbing dari waktu ke waktu. Dia teringat akan waktu dan kesabaran yang dituntut agar domba-domba itu dapat mempercayainya sebelum mereka mau mengikutinya. Juga saat-saat dimana dia harus membawa mereka keluar dari bahaya dan mereka berdesak-desakan didekat kakinya. Sebagai gembala dia harus memikiran, berjuang dan menjaga, serta melindungi, dan mencarikan padang rumput yang hijau serta mata air yang tenang bagi kawanan dombanya. Daud pun terkenang akan segala memar dan luka cakar yang dibalutnya dan dia merasa heran, betapa seringnya dia harus menyelamatkan mereka dari mara bahaya. Walau demikian tak seekor pun diantara domba-dombanya itu yang menyadari betapa mereka telah benar-benar dijaga. Ya, Daud merenungkan, Allah sangat mirip seorang gembala yang baik.

Sekitar 900 tahun setelah Daud mengarang Mazmur tentang Gembala, dengan kepastian yang mantap Yesus berkata :

 

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku (Yohanes 10:11-15).

 

Inilah Yesus Tuhan kita, “Gembala Agung segala domba” (Ibrani 13:20). DIA dan Bapa satu. DIA pun memandang kita sebagai “kawanan domba tanpa gembala”. DIA datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). DIAlah gembala yang “meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor dipegunungan” dan pergi “mencari seekor yang tersesat”, selamanya membuktikan betapa bernilainya seseorang dan kerinduan Bapa yang tak ingin seorang pun dari mereka binasa (Matius 18:12-14).

             F.B. Meyer menulis, “DIA memiliki hati seorang gembala, penuh belas kasihan dan kasih yang murni, yang tak memperhitungkan nyawa-Nya sendiri sebagai sesuatu yang terlalu mahal demi menebus kita. DIA memiliki mata seorang gembala, yang mampu mengawasi seluruh kawanan dan takakan luput, sekalipun domba malang yang tersesat dipegunungan yang dingin. DIA memiliki kesetiaan seorang gembala, yang takakan pernah membiarkan, meninggalkan kita tak berdaya, maupun melarikan diri saat melihat serigala datang. DIA memiliki kekuatan seorang gembala, maka DIA sanggup melepaskan kita dari terkaman singa atau cengkraman beruang. Dia memiliki kesabaran seorang gembala, tiada domba terlampau kecil sehingga DIA tak ingin membawanya; tak seorangpun umat-Nya yang begitu lemah sehingga DIA tak ingin menuntunnya dengan lembut; tak satupun jiwa yang begitu gamang yang takkan DIA hiburkan … kelembutan-Nya sungguh luar biasa.

             Ada lagi: Gembala yang baik menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Sejak dulu, agama-agama telah menetapkan bahwa domba harus menyerahkan nyawa bagi gembala. Gembala akan membawa dombanya ke mezbah, menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada kepala domba itu, dan mengakui dosanya. Kemudian domba itu disembelih dan darahnya terkucur~ hidup ganti hidup. Sungguh ironis! Kini Sang Gembala menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:5-6).

             Kisah itu menceritakan kematian Sang Gembala. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). DIA mati bagi semua dosa-dosa yang jelas seperti membunuh, berzinah, dan mencuri maupun dosa yang tersembunyi seperti keangkuhan dan keegoisan. DIA sendiri menganggung dosa-dosa kita didalam tubuh-Nya diatas salib. Inilah penghapusan dosa yang tuntas. Biasanya saat memandang salib, orang akan berkata manusia begitu jahat dan Allah begitu murkanya sehingga seseorang harus membayar harganya. Namun bukan kemarahan yang menyebabkan Kristus disalibkan, tetapi karena kasih. Penyaliban adalah inti ceritanya. Allah sangat mengasihi kita sehingga Dia rela menanggung kesalahan dan dosa kita serta menghapusnya. Dan saat semuanya berakhir, Dia berkata, “sudah selesai!” tak ada lagi yang perlu kita lakukan selain masuk dan menerima pengampunan-Nya, dan bagi kita yang sudah masuk, perlu masuk lebih dalam lagi.

             Sang Gembala memanggil kita dan Dia mendengar suara terlirih serta ratapan tersayup sekalipun. Bila Dia tidak mendengar suara apapun, Dia takakan menyerah dan pergi begitu saja. Dan membiarkan kita pergi mengembara dengan harapan suatu saat nanti, keletihan dan keputusasaan akan membawa kita kembali kepada-Nya. Ketidaknyamanan kita adalah tindakan Allah. Dia memburu dan mengurung kita. Dia membuyarkan impian kita. Dia menggagalkan rencana kita yang terbaik. Dia memupuskan harapan kita. Dia menunggu hingga kita tahubahwa tak satupun mampu melenyapkan kepedihan kita; tak satupun mampu menjadikan hidup ini berarti selain kehadiran-Nya. Dan bila kita berbalik kepada-Nya, Dia senantiasa siap menyambut kita. “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseruh kepada-Nya” (Mazmur 145:18).

             Tetapi anda mungkin bertanya, “Mengapa Tuhan menginginkan saya? Dia tahu semua dosa, ketersesatan, dan kebiasaan lama saya yang mudah menyerah. Saya tidak cukup baik. Dosa saya tidak layak untuk diampuni. Saya belum mampu untuk tidak berdosa”. Sikap berontak kita tidak perlu lagi dijelaskan kepada Allah. Dia tidak pernah terkejut atas apa yang kita perbuat. Dia melihat segalanya sekaligus atas apa yang terjadi., dan yang akan terjadi, terlepas dari pilihan kita yang berdosa. Dia memandang kedalam setiap sudut dan celah hati kita yang gelap dan memahami segalanya tentang kita. Tapi apa yang dilihat-Nya hanya menambah kasih-Nya. Tak ada motivasi yang lebih dalam dihati Allah selain kasih. Hakekat-Nya adalah mengasihi; Dia tidak dapat melakukan yang lainnya, karena “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8).

Apakah anda memiliki kesedihan yang tak terlukiskan? Berbagai kesedihan dan kepedihan hati yang sulit dijelaskan? Datanglah kepada Dia yang akan menghibur anda. Yesus berkata,

 

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Matius 11:28-30).

 

Memahami bahwa Allah demikian adanya, dan mengenal Allah yang sedemikian ini akan memberikan ketenangan. Tidak ada pelajaran yang lebih mendalam dari hal ini: Dialah segalanya yang kita butuhkan. Kata gembala memberikan gambaran kelembutan, keamanan dan kecukupan. Namun semuanya sia-sia selama saya tak berkata, “TUHAN adalah gembalaku”. Betapa pentingnya arti ungkapan singkat itu. Sangat berbeda diseluruh dunia. Itu berarti bahwa saya bisa mendapatkan segala perhatian Allah, kapan saja, seakan saya satu-satunya domba. Saya memang bagian dari kawanan, tapi saya unik adanya.

 

Berkata “TUHAN adalah gembala”, sangatlah berbeda dengan “TUHAN adalah gembalaku”. Martin Luther mengamati bahwa iman adalah sekedar masalah pemakaian kata ganti orang: Tuhanku dan Allahku. Inilah iman yang menyelamatkan.

To contact us:

Phone: (+62341)9159125 (sms only)

E-Mail : Info@mangkecompany.net78.net

Donasi